Aktivis: Indonesia mengalami krisis identitas

This is an article of The Jakarta Post written by Masajeng Rahmiasri.

Translated into Bahasa by Mutiara Anggrayni.

Jakarta | Kamis, 29 September 2016 | 17.15 WIB

Indonesia suffering identity crisis: Activist

Wayang kulit, sebuah aspek peninggalan tradisional Indonesia, menghiasi layar. Dalam seminarnya hari Selasa, Julia Suryakusuma berpendapat bahwa kemungkinan Indonesia mengalami “krisis identitas” (Shutterstock.com/ Vladimir Wrangel)


 

Indonesia saat ini berada di tengah krisis identitas, kata aktifis dan penulis Julia Suryakusuma Selasa lalu.

“Indonesia penuh dengan kerumitan, pertentangan dan ironi. Bangsa ini masih mencari jati diri,” katanya pada rangkaian seminar malamnya berjudul “Indonesia’s Curious Identity Crisis” yang diadakan oleh Indonesian Heritage Society di the Erasmus Huis, Jakarta Selatan, merujuk Indonesia sebagai “sekumpulan kerumitan”.

Julia mendeskripsikan Indonesia sebagai negara demokratis dan otoriter, moderat dan ekstrim, toleran dan fanatik, terbuka dan tertutup. Dia menyebutkan beberapa kasus yang sedang terjadi di Indonesia untuk memperkuat pendapatnya, termasuk gagasan terbaru tentang larangan seks bebas, tentang pro-demokrasi, anti-demokrasi dan kehidupan di ranah politik Indonesia yang saling mendesak satu sama lain, seperti penyiksaan kaum minoritas. Bagi Julia, demokrasi Indonesia mungkin akan mengalami kemunduran akibat bangsa yang cenderung “menghancurkan bangsa sendiri, tidak memanfaatkan sumber daya melimpah yang dimiliki, dan menjadi musuh terbesar bangsa kita sendiri”.

Julia mempertanyakan apakah wilayah Indonesia sangat penting, karena sebagai sebuah negara yang luas wilayahnya berada di peringkat 15 dan negara di peringkat keempat sebagai populasi terbanyak masihlah sebuah “negara yang tidak dikenal”. Indonesia adalah segalanya dan memiliki segalanya. Namun meskipun ukuran dan karakteristiknya yang luar biasa, Indonesia masih memiliki kebanggaan yang tidak diketahui. Mengapa?” Julia bertanya.

“Kita sangat ingin untuk diakui dan diterima secara serius, tapi kita belum benar-benar mendapatkan tempat yang layak di dunia dan ketidak-tegasan kita kadang membuat kita menyerang dunia secara kekanak-kanakan,” tambahnya.

Bagaimanapun, kendati segala permasalahan yang ada, akademisi Indonesia kelahiran India ini menyatakan bahwa dia akan tetap mendukung mereka yang berusaha membuat Indonesia menjadi lebih baik. Sebelum menutup seminarnya, Julia mengutip Sacha Stevenson sebagai contoh, seorang wanita yang terkenal karena seri Youtube-nya “How to Act Indonesian”. Walaupun dia adalah warga berkebangsaan Kanada, Stevenson menyatakan bahwa Indonesia membuka pikirannya. “Dia orang Kanada. Lalu bagaimana mungkin Indonesia tidak mampu membuat orang Indonesia berpikiran terbuka juga?” kata Julia, sambil berharap Indonesia dapat berpikiran terbuka dan “besar kembali”. (kes)

Source: The Jakarta Post

PS: I translated this article to improve my skill in translation. Pardon if I made mistake or using incorrect words. Thank you! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s